Archive for the ‘Nikah’ Category

Abu Harun As Salafy

Tatkala sudah tumbuh azzamku untuk menikah, aku mulai mencari-cari dengan siapa aku hendak menikah. Beragam nama sudah muncul di benak, namun hatiku tertambat dengan seorang akhwat aktivis dakwah.

Aku mengenalnya karena ia satu kampus denganku. Kami sama-sama aktifis kampus. Aku sendiri semasa kuliah aktif di KAMMI, LDK, dan juga internal kampus seperti MASIKA ICMI. Adapun akhwat tersebut adalah partnerku di LDK dan KAMMI.

Ketika aku hendak menikah Alhamdulillah aku sudah berada di atas manhaj salaf, adapun ia masih aktif di harokah. Akupun menuliskan surat untuknya by email ttg keinginanku untuk menikah dengannya.

Tidak berapa lama kemudian aku mendapatkan jawaban via email, bahwa ia menghargai kecintaanku kepadanya dan ia menolak menikah denganku dengan alasan beda wajihah dakwah. Terjadi reply email berulang kali dengannya dan sembari aku meyakinkan bahwa manhaj salaf adalah manhaj yang terbaik dan aku yakin ia bisa menerima manhaj salaf. Namun ia tetap tidak ingin menikah dengan ikhwan Salafy. Ia melihat bahwa aku sudah berubah dan aku bukanlah seperti yang dulu ia kenal.

Laa ba’sa. Aku menghargai keputusannya karena toh aku yakin bahwa Allah telah mentakdirkan jodoh untukku sesuai dengan kehendak-Nya [1].

Asy Syaikh Yahya Al Hajuri Hafizhahullahu telah bersyair:

ما أريد أن يحبني حزبيون أريد أن يجبني الله ويحبني السنيون الصالحون الذي محبتهم على الصواب

Aku tidak ingin dicintai oleh hizbiyyun, aku ingin dicintai oleh Allah Ta’ala dan sunniy yang shalih yang kecintaan mereka itu berdasarkan kebenaran.

(lebih…)

Abu Harun As Salafy

Waktu itu kurasakan berat hidup ini. Bukan dikarenakan perihnya mengais rizki, bukan pula karena kesulitan ekonomi, dan bukan pula karena banyaknya hutang negeri. Namun dikarenakan aku merasakan keterasingan diri.

Masih terngiang di telingaku bagaimana kerabat dan keluarga mengolok-olok sunnah ketika pertama kali, dahulu, sunnah demi sunnah yang kutampakkkan hingga aku harus mengelus dada. Dari sini aku berpikir bahwa aku harus memiliki tempat untuk mencurahkan segala perasaanku, teman yang akan memberikan inspirasi dan pelipur lara, dan teman untuk mau berjalan bersama denganku di atas sunnah nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Ya, aku berpikir bahwa aku harus menikah.

Sebelum menikah, aku membekali diriku dengan membeli kitab Adab Az Zifaf (Edisi Terj. Indonesia) yang ditulis oleh Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani [1]. Aku membacanya lembaran demi lembaran hingga selesai. Keinginanku adalah pernikahanku haruslah yang Islami dan sesuai dengan sunnah nabi, tidak ada bid’ah dan selainnya. FYI, ketika menikah aku berusia 25 tahun dan genap 2 tahun aku mengenal manhaj salaf.

Adapun calon istriku juga baru mengenal manhaj salaf. Seminggu sebelum hari H, ia memberitahukan teman-teman liqo nya (pengajian PKS) bahwa ia akan menikah dengan ikhwan Salafy dan setelah itu ndak akan datang untuk liqo lagi. Sudah beberapa pekan ia selalu datang liqo terlambat bahkan ketika liqo mau bubaran baru deh nongol. Hal ini dikarenakan ia lebih mendahulukan taklim rutin di kajian Ahlus Sunnah yang jadwalnya bersamaan dengan jadwal liqo, dan setelah taklim rutin selesai barulah ia langsung meluncur ke liqoan.

Maka insya Allah, kami yakin bahwa ketika menjalani kehidupan bersama dengan istriku nanti, segalanya akan mudah terobati. Saling mendukung dan saling menjaga, saling mengingatkan, dan saling memberikan motivasi untuk menjaga iman dan amal shalih.

Namun apa daya, ternyata bahwa pesta ini bukan hanya pestaku seorang, namun juga dianggap menjadi pestanya keluargaku dan keluarga calon mertuaku.

Kesedihanku luar biasa. Berkata aku di dalam hati, “Bagaimana mungkin aku bisa menjadikan kehidupan rumah tanggaku di atas sunnah, sedangkan aku mengawalinya dengan cara-cara yang tidak disyariatkan.”

Sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair:

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلىَ الْيَبَسِ

Kau dambakan keselamatan tapi engkau tak menempuh jalurnya.
Sungguh bahtera tak kan pernah berlayar di daratan.

(lebih…)

MEMILIH PASANGAN IDAMAN

Posted: 15 Mei 2010 in Nikah

Penulis: Yulian Purnama
Muroja’ah: Ustadz Kholid Syamhudi. Lc.

Terikatnya jalinan cinta dua orang insan dalam sebuah pernikahan adalah perkara yang sangat diperhatikan dalam syariat Islam yang mulia ini. Bahkan kita dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ثلاث جدهن جد وهزلهن جد: النكاح والطلاق والرجعة

“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan ruju.’” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)

Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup, insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Sungguh sayang, anjuran ini sudah semakin diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin. (lebih…)

KIAT-KIAT MENUJU PELAMINAN

Posted: 15 Mei 2010 in Nikah

Oleh: Yulian Purnama

Sungguh indah ikatan suci antara dua orang insan yang pasrah untuk saling berjanji setia menemani mengayuh biduk mengarungi lautan kehidupan. Dari ikatan suci ini dibangun keluarga bahagia, yang dipimpin oleh seorang suami yang shalih dan dimotori oleh seorang istri yang shalihah. Mereka mengerti hak-hak dan kewajiban mereka terhadap pasangannya, dan mereka pun memahami hak dan kewajiban mereka kepada Allah Ta’ala. Kemudian lahir dari mereka berdua anak-anak yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah Azza Wa Jalla. Cinta dan kasih sayang pun tumbuh subur di dalamnya. Rahmat dan berkah Allah pun terlimpah kepada mereka. Inilah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, samara kata orang. Inilah model keluarga yang diidamkan oleh setiap muslim tentunya.

Tidak diragukan lagi, bahwa untuk menggapai taraf keluarga yang demikian setiap orang harus melewati sebuah pintu, yaitu pernikahan. Dan usaha untuk meraih keluarga yang samara ini hendaknya sudah dimulai saat merencanakan pernikahan. Pada tulisan singkat ini akan sedikit dibahas beberapa kiat menuju pernikahan Islam yang diharapkan menjadi awal dari sebuah keluarga yang samara.

Berbenah Diri Untuk Mendapatkan Yang Terbaik

Penulis ingin membicarakan 2 jenis manusia ketika ditanya: “Anda ingin menikah dengan orang shalih/shalihah atau tidak?”. Manusia jenis pertama menjawab (lebih…)